Share |

Testimony

Komentar para pasien gangguan penyakit jantung :

Pasien katup jantung :

  • Ripky Arlelli umur 25 thn. Mulai 20 june 09 selesai terapi 18 agustus 09
    Di klinik hirudo lah penyakit katup jantung saya bisa disembuhkan secara tuntas.
  • Pasien penyumbatan jantung koroner 73,95 & 100% :

  • Rusmadi umur 47 thn. Mulai 4 juli 09 selesai terapi 29 agustus 09
    Satu-satunya tempat yang bisa menyembuhkan penyakit jantung yang kronis.
  • Pasien jantung koroner :

  • E Tambunan umur 53 thn. Mulai 25 juli selesai terapi 16 september 09
    Secara keseluruhan tidak ada lagi gangguan pada jantung saya.
  • Pasien jantung koroner :

  • Syamsiah Hafied umur 61 thn. Mulai 31 juli 09 selesai terapi 19 september 09
    Luar biasa, akhirnya jantung saya bisa bekerja normal kembali.
  • Pasien jantung koroner :

  • Latif Gunawan 60 thn. Mulai 20 agustus 09 selesai terapi 12 october 09
    Klinik Hirudo manpu menyembuhkan sakit yang sangat di jantung saya.
  • Pasien jantung koroner [2 ring] :

  • Pepen Effendi 50 thn. Mulai 29 agustus 09 selesai terapi 7 october 09
    Akhirnya tidak diperlukan ring tambahan lagi dijantung saya.


  • LEMAH JANTUNG

    Sebelum juni 2009 saya merasa seperti orang yang paling sehat sedunia, semua makanan tidak dipantang sama sekali. Tapi, setelah terbaring di sebuah rumah sakit jantung, barulah terasa faktor usia dan apa yang kita lakukan juga pola hidup yang kita jalani akan sangat menpengaruhi kesehatan tubuh kita. Lemah jantung, itulah hasil lab dan analisa dokter yang merawatku. Semua kegiatan yang berlebihan harus dikurangi termasuk bicara, nafasku berat bila terlalu banyak bergerak. Dilarang naik pesawat terbang dikuatirkan bisa ampal dan banyak lagi rambu-rambu yang harus ditaati.

    Awalnya diberitahu oleh seorang teman yang menonton tayangan disuatu stasiun televisi dalam acara interaktif penyembuhan “penyakit jantung”. Pada tanggal 25 juli 09 saya mulai mengikuti terapi di klinik Hirudo, dalam kondisi yang masih lemah, di kunjungan ke 2 tanggal 29 juli 09 kondisi saya mulai ada perubahan yang tadinya wajah, tangan dan kaki dingin sudah hangat kembali, juga tenaga yang hilang mulai pulih, tidak ada rasa nyeri lagi. Pada kali ketiga gangguan tidur sudah teratasi. Selesai terapi keempat saya sudah bisa melakukan kunjungan kerja ke Turki, perjalanan udara saja 19 jam per trip. Pulang dari Turki kondisi kesehatan saya sudah semakin baik. Padahal untuk masa jabatan yang akan berakhir oktober 2009 pekerjaan kadang selesainya pada dini hari. Di dalam masa perawatan kondisi saya secara keseluruhan cukup baik. Dikunjungan ke 16 hampir semua keluhan pada jantung saya sudah tidak terasa lagi. Buat saya terapi ini, terutama ramuan herbalnya sangat baik dan cepat mengatasi penyakit jantung yang saya alami. Terima kasih, Klinik Hirudo.
    Jakarta 08 october 09
    M Junaedi SE [52 thn]
    Anggota DPR RI 2004-2009
    Komisi V - Panitia Anggaran

    KU SEMATKAN ASA DIANTARA TUBUH RAPUH KU [ JANTUNGKU BOCOR …]
    Farida H. Rumodar

    Bukan hal yang mudah ketika pagi ku awali kehidupan dengan nafas yang tersengal. Begitu sulitnya hingga aku tak tahu harus berbuat apa. Rutinitas ku ditahun 2002 sebagai seorang mahasiswi di Universitas Bung Karno semester IV jurusan ilmu komunikasi jurnalistik, begitu menyita tenaga dan waktu ku. Kondisi ku yang sensitif dan sakit-sakitan, mengharuskan ku menyewa tempat tinggal yang dekat dengan kampus. Tiap kali naik bis umum, aku selalu mual dan muntah-muntah, itulah satu-satunya alasan yang memaksa ku untuk berpisah sementara dari keluarga.

    Sebagai bagian dari tim paduan suara kampus, aku sering keliling kota, tapi lagi-lagi aku hanya jadi bumerang. Aku malu, sampai-sampai harus pinjam tabung oksigen emergency milik ketua yayasan kampus ku. Ibu Rahmawati Soekarno Putri, kebetulan beliau menjadi penyelenggara acara haul Bung Karno di Blitar. Saat gladiresik tiba-tiba nafas ku sesak, tubuh gemetar dan mual, aku pun dilarikan kerumah sakit terdekat.

    Sekembalinya aku dari Blitar, sakit ku berlanjut dan mendadak serius. Sebenarnya kondisi seperti ini terus berulang, dari awal 2001 aku sering masuk IGD RS. Cipto, awalnya karena batuk selama 4 Bulan, kadang suhu tubuh mencapai 40°C, dan separuh tubuh terasa keram, hampir mati rasa. Kebetulan aku satu tempat kost dengan teman-teman dari AKPER DEPKES dan YJK (Yayasan Jalan Kimia). Mereka banyak membantu ku, hingga aku disarankan membeli tabung oksigen sebagai alat bantu darurat, ukurannya sama persis dengan yang biasa digunakan untuk menyelam. Walau begitu aku tetap memeriksakan kondisi ku tiap bulannya.

    Awal 2002 aku kembali dirawat di RS. Cipto, tetapi satu bulan sebelumnya aku sempat dirawat disalah satu Rumah Sakit di Sunter selama 4 hari. Diagnosa terakhir di RSCM aku terjangkit Broncopnemounia, aku tidak tahu apa penyebabnya.

    Kondisi keuangan ku yang tidak stabil membuat ku tak mengutamakan menu dan lingkungan. Aku makan apa adanya, mie instan, itulah menu utama ku dikala pagi, siang bahkan malam. Bagi ku yang terpenting aku bisa makan. Bagaimana pun aku tidak ingin menjadi hamba yang tak pandai bersyukur, Tuhan sudah memberi banyak untuk kehidupan ku, aku tak ingin menuntut lebih. Tubuh ku yang tinggi besar, bahkan lebih besar semangat ku untuk hidup. Aku sebisa mungkin untuk tak mengeluh, disela aktifitas ku, masih ada waktu ku sisipkan untuk berbagi cerita pada anak-anak jalanan, bahkan orang-orang yang menamakan dirinya kelompok manusia gerobak tak luput dari incaran ku tuk berbagi suka dan duka. Tepat disamping kedutaan Polandia, Salemba-Jakarta Pusat. Disitulah hampir tiap malam aku berbagi kopi pahit dan ubi rebus.

    Kehidupan terus ku jalani, nyeri didada ku kian buruk, entah berapa banyak sudah oksigen ku isi secara berulang. Hampir setiap hari harus ku isi sobat kecil ku itu, tenaga dan materi tak terhitung, honor artikel yang ku dapat tak lagi mencukupi, aku mulai lelah dan putus asa, Dokter teleh menerangkan bahwa hasil echo jantung yang ku lakukan atas perintahnya telah menghentikan rasa tanya dihati ku. Aku pernah marah pada kehidupan, tapi kali ini hidup menampar ku lebih keras, jantung ku bocor, aku tidak mengerti, yang ku rasakan betapa aku ingin berlari dan mencari punggung untuk ku bersandar, aku takut Tuhan. Selama ini aku begitu tegar, aku punya keluarga yang menyayangi ku, aku punya sahabat-sahabat yang baik, tapi saat itu aku hanya ingin menangis. Apa yang salah, aku tidak pernah melanggar norma kehidupan ku, hidup layak tanpa rokok dan lain-lain. Yang normal dan wajar pada umumnya.

    Operasi adalah jalan satu-satunya, itulah yang dianjurkan dokter tiap kali aku kontrol ke Poli Jantung RSCM. Keluarga ku tidak setuju. Banyaknya kerabat dan kolega ayah ku yang koma karena efek dari operasi. Membuat Ibu, Ayah dan Kakak-kakak ku tak sepaham dengan apa yang ku mau. Tahun 2003, seorang Dokter di RSCM memberikan ku saran untuk melakukan operasi gratis, prosedur dari sebuah yayasan jantung membuat ku wara wiri mencari kemudahan diantara birokrasi yang sulit. Beberapa teman membantu mencarikan informasi agar aku dapat keringanan biaya. Tapi lagi-lagi aku terbentur syarat, bagaimana pun ijin tertulis dari keluarga harus ku dapat karena itu adalah syarat mutlak. Ditengah proses perijinan, aku berjumpa dengan seorang Bapak, Beliau rujukan dari RS di Palembang. Karena menuju poliklinik yang sama akhirnya kami pun berbincang tentang semua, kesamaan nasib dan lainnya. Ada rasa nyeri yang meronta dihati ku, aku takut mengalami hal yang serupa dengan Bapak itu. Beliau sudah lebih dari 2 kali operasi tapi keadaannya tidak bertahan lama. Bekas luka sayatan dan jahitan membuat nafas ku ingin berhenti, yang ada hanya ucapan “Oh Tuhan” desis ku dihati nyaris terdengar, rasa takut tak dapat ku pungkiri.

    Awal 2004, aku kembali bekerja, walau posisinya sebagai tenaga paruh waktu tapi aku cukup menikmati posisi ku sebagai seorang penulis. Skripsi telah menanti ku, tapi bagaimana pun aku harus selesai tahun ini, aku tidak ingin menyia-nyiakan beasiswa yang susah payah ku raih, walau hanya 1 semester tapi aku bangga dapat mengurangi beban keluarga ku.

    Diakhir proses skripsi, aku kembali masuk rumah sakit. Skripsi membuat ku lupa tidur dan makan, dan hingga akhirnya lagi-lagi jarum infus menancap dilengan kiri ku. Batuk ku mengeluarkan spuntum/dahak bercampur darah, aku semakin lemah. Pendarahan selama 1 Bulan pada rahim ku, entah karena apa, aku tidak mengerti. Ditengah sakit yang menyiksa, Tuhan telah banyak memberi ku kekuatan hingga mampu ku selesaikan skripsi. Dosen pembimbing yang begitu baik, Bpk. Drs. Pungkut Adnan Lubis, M.Si. Beliau bukan saja seorang dosen, bagi ku beliau banyak memberikan siraman pada batin ku agar aku tegar dan melangkah walau tertatih tapi jangan pernah takut, karena Tuhan tidak pernah jauh, begitu berartinya kalimat itu hingga ku putuskan untuk kembali ke rumah, tinggal bersama keluarga dan kakak-kakak tercinta. Semua obat-obatan telah ku buang, mereka membuat ku ketergantungan. Aku muak oleh efeknya. Pinggang ku selalu sakit, dan pipis terus menerus membuat ku menjadi insommia, reaksi obat itu terlalu berat.

    Dengan segala keterbatasan, ku mulai kehidupan yang baru, dengan semangat seorang pria bernama Husen Rumodar. Pria kelahiran Sorong-Papua, 34 Tahun lalu, telah memberi warna disela hari ku. Dia banyak mengirimkan minyak sari buah merah dari Papua untuk meghentikan pendarahan dirahim ku. Hampir 6 Bulan, aku haid tidak berhenti, tapi setelah aku minum 3 botol selama 3 minggu pendarahan itu berhenti. Walaupun kami tidak pernah berjumpa, karena saat itu aku hanya mengenalnya lewat dunia maya, SMSnya terkirim ke nomor ponsel ku. Ini adalah keajaiban, Tuhan terlalu sayang pada ku, hingga dikirimkannya jodoh untuk ku, doa ku telah didengar Nya. Handphone telah menjadi media perkenalan ku dengannya.

    Tahun 2006 akhir kami menikah, dia menerima ku apa adanya, dengan segala kekurangan ku, dengan segala sakit ku. Saat itu aku merasa kuasa Tuhan telah memeluk ku, begitu hangat hingga aku tak ingin lepas dari Nya. Hampir setahun usia perkawinan ku, tetapi sang buah hati belum juga muncul. Tahun 2007 aku memeriksakan diri di RS. Honoris-Tangerang. Hasil pemeriksaan dokter kandungan dan jantung membuat ku khawatir, karena jantung ku bermasalah, membuat ku beresiko besar untuk memiliki keturunan.

    Ada kekhawatiran baru, selain khawatir tak mampu memiliki anak, aku pun khawatir suami tak puas dengan biologis yang ku berikan, karena tiap kali berhubungan aku selalu sesak nafas dan darah keluar dari mulutku bercampur spuntum, aku terbatuk-batuk sampai bercucuran peluh. Aku begitu tersiksa, tapi suami ku tetap bersabar, bahkan dia sampai tak tidur demi menjaga ku, dia begitu khawatir. Ditahun yang sama aku masih seperti dulu, lemah dan tak berdaya. Aku tak mampu berbuat apa-apa. Pekerjaan rumah tangga pun tak bisa ku lakukan. Keseharian ku hanya tidur dan berbaring. Mencuci 1 piring kotor pun aku tidak sanggup, berjalan 30 Meter pun sudah terengah-engah. Aku semakin putus asa. Keraguan dan semangat untuk hidup semakin terkikis. Beberapa pengobatan alternatif telah aku ikuti, dari refleksi hingga lainnya, namun tak satu pun yang membuahkan hasil. Hingga pada akhirnya disuatu pagi, minggu tgl 12/8/07 aku tanpa sengaja menekan chanel Trans TV. Sebuah televisi swasta yang saat itu menayangkan sebuah acara informatif, “Good Morning”, mungkin suatu kebetulan, saat itu ada penayangan tentang pengobatan alternatif dengan menggunakan lintah, acara yang dipandu Maudy dan Ferdy, itu sempat menyita perhatian ku. Klinik Hirudo, sekilas nama itu yang disebutkan.

    Aku begitu antusias, namun lagi-lagi hambatan datang, aku takut terapi itu mahal, dan lintah begitu menjijikan, akhirnya ku urungkan niat. Karena kondisi kian keruh, delapan bulan kemudian, aku kesana. April 2008, tgl 19 adalah hari pertama ku jalani terapi ekstrim itu. Hari Sabtu yang begitu menegangkan, dengan kondisi lemah, ku lalui proses terapi itu. Hampir satu jam aku dan teman ku berada di Klinik Hirudo.

    Entah kata apa yang pantas ku ucap saat itu, tubuh ku begitu ringan, nafas ku begitu panjang saat ku tarik. Aku tidak percaya, apa benar yang ku rasakan saat ini. Aku telah lupa bagaimana indah dan nikmatnya menarik nafas dengan bebas, sakit ku terlalu lama, sampai nikmat itu cepat terlupakan, tetapi saat ini, inilah pertama kali aku menarik nafas panjang tanpa disertai batuk, sudah panjang, tidak dangkal. Aku begitu naif ataukah berlebih, aku tidak tahu, tapi memang itulah yang ku rasakan.

    Keadaan ku tiap minggunya berangsur pulih, banyak hal yang sudah dapat aku lakukan, walau belum seluruhnya tapi aku merasakan hal yang pasti dan positif. Dengan menggunakan media lintah, aku merasakan proses alami tanpa resiko dan efek lainnya. Ditambah herbal yang diracik secara alami dan ditangani langsung oleh seorang terapis, tentunya memberikan suatu kualitas yang selalu terjaga. Pengobatan dilakukan tidak hanya diluar tubuh (Disekitar dada bagian kiri), tapi herbal yang diminum pun, aku dapatkan, lengkap, manfaatnya begitu terasa. Sedikit demi sedikit aku pun merasa pulih. Saat ini kondisi kesehatanku telah normal kembali.

    Setelah proses terapi berjalan, begitu pun dengan menstruasi ku, kini tiap bulan dapat ku rasakan tamu bulanan secara normal, walau telat 2 sampai 4 hari, tapi itu tidak masalah, karena sebelumnya 3 sampai 4 Bulan sekali baru ku rasakan haid. Tubuh terasa lebih segar, proses terapi itu telah mengembalikan kepercayaan diriku. Tubuh Obesitas (Kelebihan berat badan) yang selama ini ku miliki, sedikit demi sedikit susut.

    Sungguh aku ingin berbagi untuk para sahabat, janganlah sampai menunggu lama untuk bertindak, karena waktu tidak akan pernah menunggu. Ambillah kesempatan ini bila kalian bernasib sama dengan ku. Jantung adalah mutiara kita, jangan ragu, yakinkanlah hati untuk sembuh. Aku Farida H. Rumodar (30 Tahun), ini adalah kesaksian ku. Aku melakukan ini murni semata-mata untuk berbagi pada para sahabat yang mengalami hal serupa dengan ku. Ini adalah suatu kemudahan dan solusi, jangan pernah takut untuk mencoba. Klinik yang berada di Jakarta barat ini, persisnya dikawasan Grogol dekat, kampus Trisakti, dijalan Dr. Makaliwe I No. 16. telah terbukti banyak memiliki kelebihan. Walau tempatnya begitu sederhana, tapi telah memberikan manfaat yang luar biasa. Aku berharap dan terus berharap, semoga artikel sederhana ini mampu memberikan titik terang bagi para sahabat untuk mendapat kehidupan yang lebih sehat dan bermanfaat. Bila suatu saat Tuhan memanggil ku disaat ku nikmati kesembuhan ini, aku tidak akan pernah menyesal karena yang hidup pasti semua akan kembali kepada Nya. Tapi alangkah bahagianya bila kehidupan yang akan berakhir itu memiliki kesan dan meninggalkan senyum dihati orang-orang yang kita sayangi. Kita mampu tersenyum karena jiwa dan tubuh yang sehat. Terima kasih kepada Klinik Hirudo, tempat yang sederhana namun memiliki ketulusan dan kemuliaan hati orang-orang yang berada didalamnya. Semoga kesederhanaan itu tidak akan pudar walau waktu terus berjalan. Semoga Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi kita, orang-orang yang menghargai hidup dan kehidupan, karena hidup adalah sebuah perjuangan.
    Jakarta 10 June 2008

    "JANTUNG KORONER" HAMPIR MERENGGUT NYAWA KU

    Bekerja keras, itulah yang saya lakukan demi menghidupi keluarga. Saya zulkifli (52) bersama Udriyah (51) istri saya, tidak pernah lelah, bekerja dan bekerja demi anak-anak kami agar dapat hidup lebih baik dari yang lainnya. Disebuah kios, kami gantungkan hidup tiap harinya. Di Pasar Anyar, Tangerang, disanalah kami berusaha sebagai pedagang kecil. Lelah, tak pernah kami hiraukan, yang terpenting adalah kesehatan dan pendidikan 4 anak kami dapat terpenuhi dengan baik. Sebagai seorang bapak saya pun bangga karena mampu dan berusaha walau peluh membanjiri kening dan tubuh saya, tapi semua seolah sirna kala melihat anak-anak saya mengenakan toga kelulusan, sebagai seorang wisudawan.

    Rutinitas saya bersama istri terus berjalan sebagai seorang pekerja keras, saya terkadang lupa bahwa tubuh ini bukanlah robot. Hingga pada akhirnya di tahun 2006 Desember, batas kemampuan fisik saya pun teruji. Serangan sakit yang tiba-tiba di dada kiri disertai batuk terus menerus, membuat saya dilarikan ke RS. Sari Asih, Tangerang. Setelah dilakukan tindakan-tindakan medis, EKG (elektro kardiogram) dan echo, diagnosa dokter pun jatuh pada 3 penyakit, jantung koroner, maag dan asma. Lambatnya perubahan kondisi fisik saya, membuat saya memutuskan untuk berobat jalan.

    Agustus tanggal 4, 2008 saya kembali mengalami serangan serupa, tapi kali ini lebih parah. Akhirnya saya kembali dirawat inap di RS. Sari Asih, Tangerang. Tindakan medis pun dilakukan, hingga “kejut / kardio elektrik shock” pun dilakukan demi mengatasi ketidak stabilan kondisi saya pada saat itu. Keadaan saya yang sangat mengkhawatirkan membuat dokter bersolusi untuk melakukan operasi di RS. Harapan Kita, Jakarta. Banyaknya pertimbangan dari keluarga karena efek suatu operasi jantung tidaklah biasa, membuat keraguan pun muncul saat itu. Dengan segala keterbatasan akhirnya saya kembali memutuskan berobat jalan kembali.

    Novembar tanggal 12 ditahun yang sama, saya kembali dirawat inap di RS. Sari Asih, Tangerang. Mual, sesak nafas, insomnia menjadi alasan saya kali ini. Efek obat yang selama ini saya minum selalu saja menimbulkan rasa tak nyaman, perut sering kali perih. Melihat keadaan ini rasa gelisah pun mendera keluarga kami, disatu sisi mereka takut kehilangan saya, disis lain saya pun mulai lelah dengan kondisi ini.

    Semangat selalu ditunjukan istri saya dan anak-anak, terlebih Evi, anak perempuan tertua saya. Posisinya yang jauh, diluar Indonesia membuat saya tiap kali menangis, bila mendengar kabar kesehatan saya. Evi sempat menyarankan saya untuk ikut tinggal bersamanya di Singapura, upaya itu dilakukan agar saya dapat berobat dengan baik disana. Hari minggu 16 November 2008, anak saya Evi akan terbang ke Indonesia, untuk membicarakan kepastian keberangkatan saya bersamanya kelak.

    Sabtu 15 november 2008, kondisi saya mendadak tak stabil, akhirnya tanpa pikir panjang lagi saya pun dibawa oleh kerabat yang saat itu memberikan info tentang terapi alternatif di Grogol, Jakarta Barat. Saya tidak bicara banyak, nafas saya begitu pendek, dada sesak, tubuh menggigil namun berkeringat. Kepada pusing, mual. Saya bingung harus bagaimana, perjalanan terasa begitu panjang. Tidak kuat rasanya, saya kembali mual dan muntah.

    Setibanya, kami pun berkonsultasi, lalu terapi pun dilakukan. Mungkin karena darah saya begitu kental hingga membuat 2 ekor lintah yang menempel didada kiri saya lama membesar. Tapi walau begitu saya menikmatinya dengan sabar. Selang 30 menit, lintah pun dilepas. Ya Allah dada saya seperti dikompres dengan handuk dingin, enak sekali. Walau kepala masih pusing tapi tak mengapa, toh ini baru terapi yang pertama.

    Tiap seminggu 2 kali terapi dilakukan, tak terasa kini sudah terapi yang ke-16 (target 16 kali), keadaan saya semakin baik, larangan dan pantangan pun sejauh ini tidak pernah saya langgar, telur asin, makanan berlemak tinggi dan lain-lain saya jauhkan, tak tersentuh sedikitpun. Anak saya Evi pun sangat bahagia, melihat kepesatan kesembuhan saya. Kehadirannya di Indonesia pun tidak ia sia-sia kan. Kolesterol yang berlebihan ditubuhnya selalu menimbulkan rasa pegal dan nyeri di bahu. Dengan 3 kali terapi alhamdullillah kini anak saya pun ikut merasakan betapa baiknya solusi yang telah kita pilih ini.

    Ada sedikit penyesalan dihati saya, kenapa tidak dari dulu saya ikut terapi ini, lintah dan herbal adalah model terapi alternatif yang sudah disarankan kerabat saya beberapa bulan lalu, tapi saat itu saya masih ragu. Di “Klinik Hirudo” kini saya mendapatkannya, sebuah kesembuhan dari buah kesabaran dalam pencarian. Semoga orang-orang yang bernasib sama dengan saya mendapat info ini lebih cepat. Semoga apa yang sudah kita lakukan ini dapat berarti untuk sesama kita.
    Salam dan terima kasih kepada Klinik Hirudo.
    Tangerang 7 january 2009
    Bpk. Zulkifli (52)

    PERJUANGANKU MENUJU KESEMBUHAN DARI "JANTUNG KORONER"

    Efek rokok yang besar tak pernah terbayangkan olehku, hal biasa dan tak ku perdulikan. Aktifitasku disebuah perusahaan swasta yang bergerak dibidang industri menyita banyak tenaga dan waktuku. Saat itu hanya rokok yang mengisi sela waktu kerjaku.

    Aku Muin 44 tahun bersama istriku Karmini 42 tahun menetap di bandung dengan kedua putri kesayangan kami. Walau asalku dari Sumatra selatan tapi kota bandung menjadi pilihan untuk tinggal, udara bersih dan sejuk menjadi yang utama karena asma yang ku derita membutuhkan itu semua.Tahun 2005 aku merasakan hasil dari hobi merokok yang selama ini ku jalani.Dadaku serasa berdetak kuat, berdebar, tubuh lemas terhuyung, napas berat. Akhirnya aku pun masuk rumah sakit swasta di bandung. Dengan ragam pemeriksaan dan tindakan medis pun dilakukan, hingga diagnosa dokter pun turun, aku di vonis "jantung koroner".

    Satu minggu ku jalani perawatan dan akhirnya kesembuhan pun ku dapat. Pola hidupku tak banyak yang berubah, rokok seolah menjadi pengulangan episode terdahulu. Napas yang berat serta gejala lainnya silih berganti singgah. Intensitasnya yang ringan membuatku tak menanggapi dengan serius semua gejala itu.Melihat keadaanku yang seperti itu, adikku yang kebetulan bekerja disebuah kapal pesiar mencarikan info pengobatan alternatif di internet. Saat itu posisinya sedang di Amerika. Desember 2008 info itu disampaikannya padaku, dipaparkannya tentang terapi alternatif dengan media lintah serta racikan herbal, tapi sayang aku tak bergeming. Akal sehatku terlalu angkuh untuk mencerna itu semua,hatiku tak yakin dengan metode yang terlampau sederhana itu. Akhirnya info itu hanya berlalu tanpa makna ditelingaku.

    Februari 2009 aku mengalami serangan serupa. Masuk rumah sakit dan dirawat dengan keluhan dan sakit yang sama namun sedikit lebih berat. Satu minggu berlalu dan aku pun memutuskan berobat jalan. Kondisiku makin buruk, tubuhku lemas. Aku semakin tak yaman dengan kondisi ini. Obat yang ku minum tak lagi banyak membantu. Lelah dengan situasi tersebut akhirnya keluarga pun memutuskan membawaku ke klinik alternatif hirudo tempat yang disarankan adikku setahun lalu.

    Tiga jam bandung Jakarta ku tempuh, diantar sanak famili dan keluarga, ku jalani proses awal terapi dengan media lintah yang ditempelkan didada kiriku. Ditambah racikan herbal yang ku minum tiap harinya semakin menyempurnakan proses terapi tersebut. Terapi pertama dan kedua belum banyak perubahan, walau demikian ku jalani dengan sabar, ku pahami benar karena jantung merupakan organ yang sangat sensitif, jadi perlu waktu untuk menanganinya. Ketika proses ketiga aku tak lagi merasakan sesak dan lemas, beban didada kiri seolah lepas. Aku merasa begitu nyaman, dan keluarga tak perlu lagi mengantar ke Jakarta untuk terapi berikutnya, cukup aku dan istriku. Dengan bis umum ku lanjutkan sisa terapiku hingga 10 kali.

    Perjuanganku mencari kesembuhan telah menuaikan hasil. Akhirnya ku bungkus rapat opiniku yang meragukan terapi alternatif Klinik Hirudo yang berada di jl.Dr.makaliwe I no 16 grogol tersebut. Saat itu aku terlalu angkuh mencermati info itu, andai saja ku terima saran adikku saat itu mungkin tak perlu berlama-lama ku rasakan sakit didada kiriku dan segudang rasa tak nyaman lainnya.Kini aku telah sembuh, dan aku berharap tak mengulang kesalahan serupa dalam hidupku.
    Rokok sebisa mungkin ku hindari karena dari sanalah petaka itu semua bermula.
    Bandung 10 june 2009
    Bp Muin